Maluku Targetindo – Peletakan batu Penjuru Pembangunan menara lonceng Gereja Ebenhaezer Jemaat GPM Benteng Karang Dusun Amaory Negeri Passo oleh Walikota Ambon Richard Louhenapessy. Jumat 28/5/2021
Akta peletakan batu penjuru pembangunan menara lonceng gereja Ebenhaezer, diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Sekretaris MPK Pulau Ambon Timur, Pdt. Feby Songotnguan.
Kegiatan ibadah jemaat yang turut dihadiri oleh Pimpinan OPD, Saniri Negeri, Penjabat Kepala Pemerintahan Negeri Passo serta para donatur, dilaksanakan dalam protokol kesehatan yang cukup ketat.

Pembangunan Menara Lonceng Gereja sebagai sarana pendukung peribadatan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya pembinaan spiritualitas masyarakat.
“Setiap hari minggu, Kota Ambon tenggelam dalam dentangan Lonceng Gereja yang mengingatkan kita untuk meninggalkan segala kesibukan dan memberi waktu untuk mengisi,” ujar Louhenapessy
Ia mengatakan, ibadah merupakan bentuk pembinaan dan penguatan spritualitas masayarakat, yang menjadi modal berharga membangun kota Ambon, yang Sejahtera, Harmonis, dan Religius.
“Dimana – mana saya sampaikan warga gereja yang baik adalah warga kota yang baik, namun warga kota yang baik belum tentu warga gereja yang baik,” ungkapnya.
Walikota bersedia, semua pihak yang mewujudkan kota Ambon yang tidak bertanggung jawab atas warga gereja yang selalu mendukung kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon.
“Banyak hal yang telah kita capai namun masih banyak hal yang harus dibenahi, oleh sebab itu Pemkot perlu topangan dari seluruh warga gereja, dalam setiap langkah untuk membangun kota ini,” ujarnya.
Apa yang bisa dilakukan jemaat dalam menopang pembangunan, menurut Walikota adalah hal-hal sederhana yang dilakukan menurut kemampuan masing – masing.
“Bila tidak bisa memberi jangan mengambil, jika tak melihat terlalu sulit jangan hentikan, jika tidak mampu menghibur jangan membuat orang sedih, jika tidak mau, jangan menghina,” tandasnya.
Sementara itu, Anggota MPH Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) Frans Papilaya, dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa Pembangunan Menara Lonceng menandakan dinamika dari karya Tuhan bagi jemaat GPM Benteng Karang.
“Untuk itu kita perlu bersyukur karena sebagai jemaat yang direlokasi pasca konflik, terus termotivasi untuk membangun sarana pendukung termasuk pembangunan menara lonceng,” kata Papilaya.
Lebih lanjut, pembangunan menara tempat bunyi lonceng digemakan dan dikumandangkan, harus dimaknai dalam makna teologis sebagai pekerjaan yang kudus dan sebagai bentuk ekspresi iman.
“Momentum pembangunan batu penjuru menara lonceng menguatkan relasi kita dan mendengar suara Tuhan, membuka telinga dan hati dalam meresponi panggilannya,” tandas Papilaya


